Thom Beanal dan Jejak Sejarah Martabat Papua
Mengenang Thom Beanal sebagai tokoh adat, gereja, lingkungan, HAM, dan pemimpin Papua yang meninggalkan warisan perjuangan bagi generasi OAP hari ini dan masa depan.
KESAKSIAN


Gbr. Thom Beanal - Bapa Bangsa Papua
Timika, Papua Tengah - Bedah buku “Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua” menghadirkan akademisi, aktivis, tokoh nasional, dan penulis buku. Buku ini memuat kesaksian sekitar 47 penulis dan mendokumentasikan perjalanan Thom Beanal sebagai pastor awam, pemimpin adat, aktivis HAM, pendiri/aktor penting Lemasa, Dewan Adat Papua, serta Komisaris PT Freeport Indonesia 2000–2018. (Odiyaiwuu)
Thom Beanal: Ingatan, Teladan, dan Panggilan Moral bagi Generasi Papua
Bedah buku tentang Almarhum Thom Beanal bukan sekadar acara literasi. Ini adalah ruang untuk membuka kembali ingatan kolektif rakyat Papua tentang seorang tokoh yang hidupnya menyatu dengan gereja, adat, tanah, rakyat, lingkungan, dan martabat bangsa Papua.
Thom Beanal adalah sosok yang lahir dari rahim tanah Amungme, dari kaki Gunung Nemangkawi, tetapi pengaruh perjuangannya melampaui batas suku, wilayah, gereja, dan organisasi. Ia bukan hanya kepala suku. Ia bukan hanya pastor awam. Ia bukan hanya aktivis. Ia adalah figur yang berdiri di simpang sejarah Papua: antara tanah adat, kekuatan modal, kekuasaan negara, suara gereja, dan jeritan rakyat kecil.
Bagi kami di Mimika, nama Thom Beanal memiliki makna yang sangat dalam. Mimika bukan hanya tempat tambang besar dunia berdiri, tetapi juga tanah yang melahirkan banyak pertanyaan moral: siapa yang menikmati kekayaan alam, siapa yang kehilangan tanah, siapa yang menanggung luka, dan siapa yang berani berbicara ketika rakyat adat terdesak?
Di situlah Thom Beanal hadir sebagai suara. Ia berbicara dengan tenang, tetapi tegas. Ia mendengar rakyat, tetapi tidak kehilangan keberanian. Ia memakai bahasa kiasan, tetapi pesannya tajam. Ia tidak memimpin dengan amarah kosong, melainkan dengan integritas, disiplin, dan tanggung jawab.
Generasi Papua hari ini perlu belajar dari Thom Beanal. Perjuangan tidak cukup hanya dengan teriakan. Perjuangan harus ditopang oleh pengetahuan, dokumentasi, organisasi, moralitas, dan keberanian menjaga kebenaran. Buku tentang Thom Beanal menjadi penting karena banyak tokoh Papua datang dan pergi tanpa didokumentasikan dengan baik. Jika sejarah tidak ditulis oleh anak-anak Papua sendiri, maka generasi berikut akan kehilangan arah dan akar.
Sebagai Ketua Analisis Papua Strategis Mimika, saya melihat bedah buku ini sebagai panggilan penting bagi kaum muda Papua, akademisi, gereja, adat, aktivis, pengusaha, dan pemimpin politik OAP. Kita harus membangun tradisi membaca, menulis, mendokumentasikan, dan menganalisis perjalanan para tokoh Papua secara jujur.
Thom Beanal telah memberi teladan bahwa pemimpin sejati bukan hanya orang yang duduk di kursi jabatan, tetapi orang yang berani memikul penderitaan rakyatnya, mendengar suara akar rumput, menjaga tanah leluhur, dan berdiri untuk martabat manusia.
Hari ini, Papua membutuhkan lebih banyak pemimpin yang rendah hati seperti Thom Beanal: pemimpin yang mendengar sebelum berbicara, berpikir sebelum bertindak, dan berani mempertanggungjawabkan amanat rakyat di hadapan Tuhan, adat, sejarah, dan generasi yang akan datang.
Thom Beanal telah pergi secara jasmani, tetapi nilai perjuangannya belum selesai. Tugas kita adalah meneruskan api itu dalam jalan pendidikan, ekonomi rakyat, perlindungan tanah adat, pemulihan martabat OAP, dan perjuangan damai yang bermoral.
Hormat untuk Almarhum Thom Beanal.
Dito Yepmum.
Papua akan terus mengingatmu.
