Sampah Tidak Cukup Dibersihkan, Sampah Harus Dikelola dalam Satu Sistem
Masalah sampah di Mimika tidak cukup diselesaikan dengan aksi bersih-bersih yang terus diulang. KOPROPESMI mendorong pembangunan sistem pengelolaan sampah dari sumber sampai pengolahan akhir melalui koperasi, teknologi digital, teknologi lingkungan, Gooldz-Clean, dan ekonomi sirkular.
LINGKUNGAN


Yerry: Masalah sampah diperlukannya sistem terpadu
Catatan Gagasan KOPROPESMI untuk Pengelolaan Sampah, Teknologi Lingkungan, dan Ekonomi Sirkular di Kabupaten Mimika
Timika - Masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan aksi bersih-bersih yang terus diulang. Aksi pembersihan memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban. Sampah akan terus ada selama manusia hidup, bekerja, berdagang, bersekolah, beribadah, membangun usaha, dan melaksanakan berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat.
Di mana ada aktivitas manusia, di situ pasti ada sampah. Karena itu, persoalan utama bukan hanya bagaimana membersihkan sampah yang sudah berserakan, tetapi bagaimana membangun sistem agar sampah dapat dikelola sejak dari sumber sampai pengolahan akhir.
Selama ini di Timika sudah ada berbagai upaya pengelolaan sampah. Ada pemanfaatan sampah menjadi paving block, ada pengepul yang mengumpulkan sampah bernilai ekonomi untuk dijual ke luar daerah, dan ada kegiatan pembersihan sampah di jalan, drainase, pasar, serta ruang publik. Semua upaya ini patut dihargai sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Namun, kita juga harus jujur melihat bahwa upaya tersebut belum cukup apabila belum terhubung dalam satu sistem yang utuh. Pembuatan paving block hanya menjawab sebagian kecil dari persoalan. Pengepul hanya mengambil jenis sampah tertentu yang memiliki nilai jual. Aksi bersih-bersih hanya menangani sampah yang sudah terlanjur berserakan. Setelah dibersihkan, sampah bisa kembali muncul jika sistem dari hulunya tidak dibangun.
Maka Mimika tidak cukup hanya dibersihkan. Mimika harus memiliki sistem pengelolaan sampah.
Sistem itu harus dimulai dari edukasi masyarakat, pemilahan sampah dari rumah, pasar, sekolah, kantor, gereja, rumah makan, fasilitas publik, perusahaan, dan area kontraktor. Setelah itu harus ada jadwal penjemputan, petugas yang terorganisir, tempat pengumpulan sementara, alat timbang, pencatatan, pembayaran nilai sampah, bank sampah, koperasi, daur ulang, teknologi pengolahan, hingga penanganan residu secara bertanggung jawab.
Sampah bukan hanya urusan perilaku individu, tetapi juga urusan sistem kota. Kalau sistemnya lemah, sampah akan terus mengalir ke jalan, drainase, pasar, lingkungan rumah, dan ruang publik. Tetapi kalau sistemnya dibangun dengan baik, sampah dapat menjadi sumber nilai ekonomi, lapangan kerja, edukasi lingkungan, dan penguatan ekonomi rakyat.
Dalam konteks ini, KOPROPESMI — Koperasi Produsen Pengelola Sampah Mimika — ingin mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Mimika. Pendekatan ini berbasis koperasi, teknologi digital, pemilahan dari sumber, penimbangan transparan, bank sampah, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Melalui dukungan Gooldz-Clean, pengelolaan sampah dapat diarahkan secara bertahap menjadi lebih modern dan terukur. Masyarakat dapat memilah sampah dari rumah atau tempat usaha. Petugas dapat melakukan penjemputan. Sampah dapat ditimbang bersama. Hasilnya dapat dicatat. Nilai ekonominya dapat dibayarkan atau disimpan melalui koperasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya disuruh menjaga kebersihan, tetapi juga dilibatkan dalam sistem yang memberi manfaat.
Kita juga perlu membangun standar baru untuk setiap kegiatan publik di Mimika. Setiap acara pemerintah, organisasi, komunitas, gereja, sekolah, perusahaan, maupun panitia kegiatan harus merencanakan pengelolaan sampah sejak awal. Acara yang sukses bukan hanya acara yang ramai peserta, tetapi acara yang tidak meninggalkan sampah bagi kota.
Karena itu, pengelolaan sampah harus masuk dalam perencanaan kegiatan, sama seperti konsumsi, keamanan, dokumentasi, dan perlengkapan acara. Harus jelas tempat sampahnya, siapa petugasnya, kapan diangkut, ke mana dibawa, mana yang dipilah, mana yang bernilai ekonomi, dan bagaimana laporan akhirnya.
Dalam hal penegakan aturan, pemberian denda kepada pembuang sampah sembarangan dapat menjadi bagian dari membangun disiplin lingkungan. Namun, denda tidak boleh ditempatkan sebagai satu-satunya solusi. Denda tanpa sistem hanya akan memindahkan masalah. Sebelum masyarakat didenda, sistem pengelolaan sampah harus disiapkan terlebih dahulu.
Pemerintah perlu memastikan adanya fasilitas, tempat sampah yang memadai, titik pengumpulan yang tertata, jadwal pengangkutan yang jelas, edukasi pemilahan, petugas yang terorganisir, bank sampah, jalur daur ulang, dan mekanisme pengelolaan dari sumber sampai pengolahan akhir. Setelah sistem tersedia, barulah aturan dapat ditegakkan secara adil.
Denda sebaiknya menjadi instrumen terakhir setelah edukasi, sosialisasi, fasilitas, dan sistem tersedia. Tahapannya dapat dimulai dari edukasi, teguran, peringatan, pembinaan, lalu penindakan bagi pihak yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas publik, mengotori drainase, atau membuang sampah di lokasi yang bukan peruntukannya.
Dengan demikian, denda bukan menjadi simbol kemarahan kepada masyarakat, tetapi menjadi bagian dari tata kelola lingkungan yang mendidik. Denda bukan solusi utama, tetapi pagar disiplin agar sistem yang telah dibangun dapat dihormati bersama. Bahkan dana dari denda lingkungan sebaiknya dapat diarahkan kembali untuk mendukung kebersihan, edukasi masyarakat, penyediaan fasilitas, insentif petugas, bank sampah, dan penguatan sistem pengelolaan sampah.
Selain sistem sosial dan kelembagaan, Mimika juga membutuhkan lompatan menuju teknologi lingkungan. Pengelolaan sampah tidak cukup hanya dibangun dengan tenaga manual, aksi bersih-bersih, dan pengangkutan rutin. Kabupaten Mimika membutuhkan teknologi yang tepat, bertahap, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan daerah.
Karena itu, KOPROPESMI mendorong agar Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, PTFI, PTKPI, kontraktor, dan dunia usaha dapat membangun kerja sama strategis dalam pengadaan teknologi lingkungan bersama KOPROPESMI sebagai mitra koperasi lokal.
Teknologi lingkungan yang dimaksud tidak harus langsung dimulai dari teknologi besar dan mahal. Pengembangannya dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari alat timbang digital, kontainer sampah terpilah, karung dan bak pemilahan, kendaraan pengangkut sampah terpilah, mesin press plastik, mesin pencacah plastik, mesin pencacah organik, komposter, gudang pemilahan, serta sistem digital pencatatan layanan.
Pada tahap berikutnya, Mimika dapat mulai memikirkan teknologi yang lebih maju seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos atau pakan pendukung pertanian, biodigester untuk limbah organik, pengolahan plastik menjadi bahan baku daur ulang, produksi bahan bangunan ramah lingkungan, refuse-derived fuel, hingga teknologi pengolahan residu yang aman dan bertanggung jawab.
Namun, pengadaan teknologi lingkungan tidak boleh hanya menjadi proyek pembelian alat. Teknologi harus masuk dalam sistem yang jelas. Harus ada operator, lokasi, sumber sampah, jadwal kerja, pencatatan volume, perawatan alat, pasar hasil olahan, laporan rutin, dan kelembagaan yang bertanggung jawab.
Di sinilah KOPROPESMI dapat mengambil peran penting. KOPROPESMI dapat menjadi wadah koperasi lokal yang mengorganisir masyarakat, petugas lapangan, driver, pengepul, bank sampah, titik pengumpulan, dan data sampah dari sumber. Sementara Gooldz-Clean dapat mendukung sistem digital untuk pencatatan pelanggan, jadwal penjemputan, data petugas, kategori sampah, hasil timbangan, nilai pembayaran, simpanan koperasi, laporan volume sampah, dan dashboard pemantauan.
Pemerintah dapat berperan dalam regulasi, rekomendasi, fasilitasi lokasi, koordinasi OPD, dukungan kebijakan, dan integrasi dengan program kebersihan daerah. PTFI, PTKPI, kontraktor, dan dunia usaha dapat berperan melalui dukungan CSR, pengadaan teknologi, pelatihan, pendampingan manajemen, pembukaan akses kerja sama pengelolaan sampah non-B3, serta dukungan pilot project ekonomi sirkular.
Dengan melibatkan KOPROPESMI, pemerintah dan swasta tidak hanya membantu membersihkan sampah, tetapi juga membangun kapasitas ekonomi masyarakat lokal. Koperasi dapat menjadi wadah bagi warga, pemuda, petugas, driver, pengepul, pelaku UMKM, dan kelompok masyarakat untuk masuk dalam rantai ekonomi sirkular.
Inilah arah baru yang perlu dibangun di Mimika: kolaborasi antara kebijakan pemerintah, dukungan perusahaan, teknologi lingkungan, koperasi lokal, sistem digital, dan partisipasi masyarakat.
Mimika membutuhkan aturan.
Mimika membutuhkan disiplin.
Mimika membutuhkan teknologi.
Tetapi yang paling utama, Mimika membutuhkan sistem.
KOPROPESMI percaya bahwa Mimika membutuhkan gerakan yang lebih dari sekadar bersih-bersih. Mimika membutuhkan ekosistem pengelolaan sampah. Pemerintah, perusahaan, kontraktor, koperasi, masyarakat, gereja, sekolah, komunitas, dan platform digital lokal harus bergerak bersama.
Masalah sampah tidak selesai dengan aksi bersih-bersih yang terus diulang. Masalah sampah baru dapat diselesaikan ketika sistemnya dibangun dari sumber, pengangkutan, pemilahan, pencatatan, hingga pengolahan akhir.
Bukan hanya bersih-bersih.
Bangun sistemnya.
Bukan hanya mengangkut sampah.
Kelola nilainya.
Bukan hanya menyalahkan warga.
Libatkan warga dalam sistem yang memberi manfaat.
Denda perlu, tetapi denda tanpa sistem hanya memindahkan masalah.
Bangun sistemnya, edukasi warganya, sediakan fasilitasnya, lalu tegakkan aturannya secara adil.
Teknologi lingkungan perlu, tetapi teknologi tidak boleh hanya menjadi pengadaan alat.
Teknologi harus dikelola, digunakan, dicatat, dirawat, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Melalui kerja sama pemerintah, PTFI, PTKPI, kontraktor, dunia usaha, KOPROPESMI, dan Gooldz-Clean, Mimika dapat membangun model pengelolaan sampah modern berbasis teknologi lingkungan, koperasi lokal, dan ekonomi sirkular.
Inilah arah yang ingin didorong KOPROPESMI bersama Gooldz-Clean: membangun sistem pengelolaan sampah Mimika yang modern, manusiawi, produktif, adil, dan berkelanjutan.
Yerry A. Nawipa
Pendiri/Penggerak KOPROPESMI
Founder Gooldz-Clean
Timika, Papua Tengah
