Y4N - Media, Gagasan, dan karya dari papua

Pertemuan untuk Membangun Masa Depan Akar Rumput Masyarakat Adat Distrik Mimika Utara

Catatan pertemuan Yerry A. Nawipa dengan Pak Bakri KABID di DPMK Mimika, membahas klarifikasi administrasi wilayah dan rencana pengembangan Dakabado Integrated Farming sebagai model pembangunan akar rumput masyarakat adat di Distrik Mimika Utara.

EKONOMI

Adm. y4n.site

6/16/20265 min read

Pertemuan Yerry dengan Pak Bakri Kabid DPMK Mimika

Catatan Pertemuan dengan Pak Bakri

Kepala Bidang Pemerintahan Kampung Mimika
Tanggal: 15 Juli 2026
Topik: Klarifikasi Administrasi Wilayah dan Rencana Pengembangan Pertanian Terpadu Dakabado Integrated Farming

Pada siang hari tanggal 15 Juli 2026, saya bertemu dan berdiskusi dengan Pak Bakri, Kepala Bidang di Pemerintahan Kampung Mimika, untuk membicarakan rencana pengembangan pertanian terpadu di Kampung Dakabado, Distrik Mimika Utara, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Pertemuan ini menjadi penting karena sebelum memulai tahapan pembangunan fisik dan kolaborasi kelembagaan, saya perlu memastikan terlebih dahulu kejelasan administrasi wilayah, struktur pemerintahan distrik dan kampung, serta batas-batas kewenangan pemerintahan pasca pemekaran Distrik Mimika Utara dan Mimika Gunung.

Latar Belakang Rencana Pengembangan

Saya menyampaikan bahwa saya memiliki beberapa lahan di Kampung Dakabado, Distrik Mimika Utara, yang akan saya kembangkan sebagai titik awal usaha pertanian terpadu. Rencana ini saya siapkan sebagai kegiatan produktif pasca-pensiun, mengingat masa kerja saya di sektor swasta tinggal beberapa tahun lagi.

Namun sejak awal saya menegaskan bahwa rencana ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi. Visi besarnya adalah membangun model pemberdayaan masyarakat lokal dan masyarakat adat melalui pertanian, peternakan, perikanan, energi terbarukan, pengolahan limbah, koperasi, dan digitalisasi.

Dalam konsep jangka panjang, pengembangan ini tidak hanya terbatas pada lahan milik pribadi, tetapi dapat berkembang menjadi kawasan pertanian terpadu seluas kurang lebih 2.000–3.000 hektar yang melibatkan beberapa kampung di wilayah sekitar Dakabado dan kampung-kampung sekitarnya.

Klarifikasi Administrasi Wilayah

Dalam diskusi tersebut, saya menyampaikan adanya kebingungan terkait struktur administrasi wilayah, terutama setelah adanya pemekaran Distrik Mimika Utara dan Distrik Mimika Gunung.

Wilayah yang selama ini saya pahami berada di jalur dari Kalikamora hingga ke arah perbatasan Kabupaten Deiyai, khususnya di sekitar wilayah Kali Kyura, kini perlu dipastikan kembali status administrasinya. Beberapa kampung yang disebutkan dalam pembicaraan antara lain, Kali Kamora, Bunaipeku, Manikame, Woloa I, Woloa II, Amamu, Zagamigi, Pusapal, Dakabado, Amuyai, Kopaimaida & Iyobeu yang berbatasan dengan Kabupaten Deiyai.

Karena wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Deiyai dan sebelumnya sering dikaitkan dengan wilayah administrasi lain, maka diperlukan kepastian resmi mengenai:

  1. Siapa Kepala Distrik Mimika Utara saat ini;

  2. Siapa Kepala Distrik Mimika Gunung saat ini;

  3. Kampung apa saja yang masuk dalam Distrik Mimika Utara;

  4. Kampung apa saja yang masuk dalam Distrik Mimika Gunung;

  5. Siapa para kepala kampung atau pejabat kampung yang sedang bertugas;

  6. Bagaimana batas administrasi terbaru antara Mimika, Deiyai, dan wilayah sekitar;

  7. Ke mana jalur koordinasi resmi harus dilakukan untuk rencana pembangunan kawasan.

Saya juga menyampaikan bahwa saya telah berupaya menghubungi beberapa pihak terkait, termasuk Pak Warimon, Pak Evert Hindom, dan pihak lain yang memahami proses pemekaran distrik baru. Namun karena data administrasi masih perlu dipastikan, saya menilai perlu adanya koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Sekda, Bupati Mimika, serta pihak Pemerintahan Kampung.

Konsep Dakabado Integrated Farming

Saya menjelaskan bahwa konsep yang sedang saya siapkan adalah Dakabado Integrated Farming, yaitu model pertanian terpadu berbasis kampung, tanah adat, teknologi sederhana, energi terbarukan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Komponen utama yang direncanakan meliputi:

  • Peternakan ayam;

  • Peternakan babi;

  • Budidaya jagung sebagai bahan pakan;

  • Pengolahan pakan ternak mandiri;

  • Budidaya sayuran;

  • Aquaponik;

  • Budidaya ikan;

  • Pengolahan limbah ternak;

  • Biodigester dan biogas;

  • Pupuk organik cair dan padat;

  • Budidaya lalat BSF;

  • Koperasi masyarakat adat;

  • Digitalisasi manajemen usaha melalui aplikasi dan dashboard.

Saya menyampaikan bahwa desain awal lokasi sudah mulai saya susun menggunakan peta digital, termasuk rencana lokasi kandang, gudang pakan, jalur produksi, pengolahan limbah, dan kawasan pendukung lainnya.

Teknologi Biodigester dan Energi Terbarukan

Salah satu bagian penting dari konsep ini adalah penggunaan biodigester untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas dan pupuk organik.

Kotoran babi, sapi, atau ternak lainnya dapat dimasukkan ke dalam sistem biodigester bawah tanah. Dari proses tersebut akan dihasilkan gas metana yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak, penerangan, bahkan menggerakkan genset khusus biogas apabila kapasitasnya cukup besar.

Dengan sistem ini, kampung dapat mulai belajar mengurangi ketergantungan pada genset solar dan PLN. Dalam jangka panjang, konsep ini dapat dikembangkan menjadi bagian dari sistem energi kampung yang lebih mandiri, termasuk kemungkinan integrasi dengan PLTMH, solar cell, dan teknologi energi terbarukan lainnya.

Sisa proses biodigester berupa slurry dapat diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat untuk mendukung budidaya jagung, sayuran, dan tanaman lainnya. Dengan demikian, limbah ternak tidak menjadi sumber pencemaran, tetapi berubah menjadi sumber energi dan pupuk.

Pengolahan Pakan Mandiri

Saya juga menyampaikan bahwa saya telah membeli mesin pelet pakan ternak dari Surabaya dengan harga sekitar Rp15 juta. Mesin ini akan digunakan untuk membuat pakan ternak secara mandiri dari bahan lokal, seperti jagung, dedak, limbah pertanian, daun-daunan, dan bahan tambahan lainnya.

Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada pakan pabrik yang mahal dan sulit dijangkau. Jika masyarakat bisa memproduksi pakan sendiri, maka biaya peternakan dapat ditekan, keuntungan meningkat, dan ekonomi kampung menjadi lebih mandiri.

Budidaya Lalat BSF dan Aquaponik

Dalam pertemuan tersebut saya juga menjelaskan rencana budidaya lalat BSF atau Black Soldier Fly. Larva BSF dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik, sisa makanan, kotoran ternak, dan bahan organik lainnya menjadi sumber protein tinggi untuk pakan ayam, ikan, dan ternak lainnya.

Teknologi ini penting karena dapat mengurangi bau, mempercepat pengolahan limbah, dan menghasilkan pakan alternatif bernilai ekonomi.

Selain itu, saya juga menyampaikan pengalaman saya menerapkan sistem aquaponik di rumah. Sistem ini menggabungkan kolam ikan dan tanaman sayur. Air kolam yang mengandung nutrisi dari kotoran ikan dialirkan ke tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh tanpa banyak pupuk tambahan. Sistem ini dapat menjadi model pembelajaran sederhana bagi masyarakat kampung.

Motivasi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Adat

Saya menegaskan bahwa tujuan utama dari rencana ini adalah pemberdayaan masyarakat adat dan masyarakat lokal. Saya ingin membantu masyarakat berubah dari pola hidup yang hanya membuka lahan, menanam, menjual hasil, lalu habis untuk kebutuhan sesaat, menuju pola hidup yang lebih terencana, produktif, dan mandiri.

Masyarakat perlu belajar menabung, mencatat keuangan, mengelola hasil usaha, menghindari kebiasaan konsumtif, dan membangun masa depan keluarga.

Pak Bakri Kabid Pemkam, juga menyampaikan pengalamannya sebelumnya di Mimika Barat Jauh, ketika melatih beberapa warga untuk belajar pembukuan sederhana dan menabung. Saya pernah menggunakan kotak biskuit Khong Guan sebagai tempat tabungan, sekaligus menanamkan disiplin agar masyarakat tidak menggunakan hasil usaha untuk hal-hal yang merusak keluarga, seperti minuman keras.

Pak Bakri menekankan bahwa kawasan pengembangan seperti ini harus menjadi wilayah kerja produktif, sehat, tertib, bebas miras, bebas kekerasan dalam rumah tangga, dan menjadi contoh bagi kampung lain.

Kebutuhan Kolaborasi

Untuk mewujudkan rencana ini, saya menyampaikan perlunya dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, antara lain:

  • Pemerintah Kabupaten Mimika;

  • Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung;

  • Distrik Mimika Utara dan Mimika Gunung;

  • Pemerintah kampung setempat;

  • BRIDA Mimika;

  • Dinas Pertanian;

  • Dinas Peternakan;

  • Dinas Perikanan;

  • Dinas Lingkungan Hidup;

  • Dinas Koperasi dan UMKM;

  • pihak akademisi;

  • pihak keamanan bila diperlukan untuk menjaga ketertiban;

  • investor sosial atau mitra pembangunan;

  • koperasi masyarakat adat.

Saya juga menyampaikan bahwa konsep ini dapat dikaitkan dengan agenda inovasi daerah, ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, pengembangan kampung, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.

Pentingnya Kepastian Wilayah

Salah satu poin terpenting dari pertemuan ini adalah perlunya kepastian administrasi dan batas wilayah sebelum pembangunan dimulai. Hal ini penting agar tidak terjadi salah komunikasi, tumpang tindih kewenangan, atau konflik dengan pihak lain di kemudian hari.

Karena itu, saya berharap Pemerintah Kabupaten Mimika melalui bagian pemerintahan kampung dapat membantu memberikan data resmi mengenai distrik, kampung, kepala kampung, serta batas wilayah administrasi terbaru.

Dengan data yang jelas, maka rencana Dakabado Integrated Farming dapat disusun secara lebih tertib, legal, dan kolaboratif.

Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut, saya akan terus mencari informasi administratif yang valid, termasuk berkoordinasi dengan pejabat terkait, Pemerintah Kabupaten Mimika, Sekda, Bupati Mimika, serta pihak-pihak yang memahami pemekaran Distrik Mimika Utara dan Distrik Mimika Gunung.

Saya juga akan menyiapkan dokumen konsep, peta awal, dan proposal singkat agar rencana ini dapat dikomunikasikan secara resmi kepada pemerintah daerah dan mitra terkait.

Pertemuan dengan Pak Bakri menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa rencana pengembangan Dakabado Integrated Farming tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga tertib secara administrasi, sesuai wilayah, dan dapat diterima sebagai bagian dari upaya pembangunan kampung berbasis masyarakat adat di Kabupaten Mimika.

Yerry A. Nawipa
Penggagas Dakabado Integrated Farming
Founder Gooldz
Ketua APS Mimika
Koordinator Indonesian Locavore Society Papua Raya

Hubungi kami: +628-224-847-2025

Alamat: Jl. Rambutan, Wanagon, Mimika Baru, Mimika, Papua Tengah 99910