Y4N - Media, Gagasan, dan karya dari papua

Penguatan Dollar Tidak Boleh Dianggap Biasa-biasa Saja

Penguatan dollar, tekanan APBN, kenaikan beban PPh 21, dan mulai masuknya kendaraan listrik dalam skema pajak daerah menunjukkan bahwa ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan berlapis. Pemerintah pusat perlu berhati-hati agar kebijakan fiskal tidak hanya mengejar penerimaan negara, tetapi juga melindungi daya beli rakyat, pekerja, UMKM, dan daerah-daerah rentan seperti Papua.

admin y4n.site

4/28/20261 min read

Dolar Naik - Rupiah Melemah - Pajak Naik

Timika - y4n.site - Ketika dollar menguat, tekanan terhadap ekonomi Indonesia bisa merambat ke banyak sektor: harga impor naik, biaya energi meningkat, beban subsidi bertambah, APBN tertekan, dunia usaha menyesuaikan harga, dan pada akhirnya daya beli masyarakat ikut melemah.

Bank Indonesia sendiri masih menahan BI-Rate di level 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi memang sedang menjadi perhatian serius, bukan sekadar isu biasa. (Bank Indonesia)

Yang saya rasakan langsung sebagai pekerja adalah beban PPh 21 juga terasa semakin berat. Berdasarkan payslip saya, persentase Total Tax terhadap Total Earning naik dari 11,60% pada Januari, 14,07% pada Februari, menjadi 23,86% pada Maret dan 24,83% pada April 2026. Saya memahami bahwa hal ini berkaitan dengan mekanisme perhitungan TER, tetapi secara nyata tekanan itu tetap terasa langsung di kantong pekerja dan keluarga.

Di sisi lain, kendaraan listrik yang sebelumnya didorong sebagai solusi energi masa depan juga mulai masuk dalam pengaturan dasar pengenaan PKB dan BBNKB melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Artinya, masyarakat didorong masuk ke energi bersih, tetapi pada saat yang sama tetap harus siap menghadapi beban administrasi dan fiskal baru. (JDIH Kemendagri)

Menurut saya, Jakarta perlu sangat hati-hati. Jangan hanya melihat persoalan ini dari sisi penerimaan negara, tetapi juga harus menjaga daya beli rakyat, kestabilan harga, keberlangsungan UMKM, dan kondisi daerah-daerah seperti Papua yang sangat bergantung pada biaya logistik, harga energi, dan konektivitas.

Indonesia memang belum tentu menuju krisis seperti 1998, tetapi tanda-tanda tekanan ekonomi harus dibaca secara serius. Fitch juga sudah memberi perhatian terhadap risiko fiskal Indonesia, terutama bila defisit melebar terlalu lama atau disiplin fiskal melemah. (Reuters)

Krisis sering tidak datang tiba-tiba. Ia muncul ketika banyak tanda kecil diabaikan terlalu lama. Karena itu, pemerintah pusat perlu mengambil langkah yang lebih adil, hati-hati, dan berpihak kepada rakyat kecil, pekerja, UMKM, petani, nelayan, serta daerah-daerah yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hidup.

Eme Neme Yauware