Papua Sudah Lama Bersuara, Presiden Harus Jeli Membaca Momentum Ini
Refleksi kritis tentang suara panjang rakyat Papua, keadilan bagi Orang Asli Papua, dan pentingnya Presiden membaca momentum ini dengan jeli
OPINI


Gbr Ilustrasi
Oleh: Yerry A. Nawipa
Kita harus memahami bahwa persoalan Papua bukan persoalan yang lahir hari ini. Apa yang sedang terjadi sekarang, termasuk berbagai aksi, tuntutan, dan aspirasi rakyat, adalah bagian dari sejarah panjang suara Papua yang telah disampaikan sejak puluhan tahun lalu.
Sejak dekade 1960-an, rakyat Papua telah berbicara tentang keadilan, martabat Orang Asli Papua, pengakuan, evaluasi kebijakan negara, dan ruang keterlibatan yang lebih nyata dalam menentukan masa depan tanahnya sendiri. Suara itu hadir di berbagai ruang: dari forum adat, gereja, mahasiswa, hingga panggung nasional dan internasional.
Karena itu, Presiden Prabowo Subianto harus jeli melihat bahwa situasi Papua tidak bisa dibaca secara sempit. Papua bukan hanya soal wilayah, bukan hanya soal investasi, dan bukan hanya soal stabilitas. Papua adalah soal manusia, sejarah, martabat, dan harapan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dalam konteks penentuan kepemimpinan di PT Freeport Indonesia, dukungan terhadap Bung Frans Pigome harus dipahami lebih dari sekadar dukungan kepada satu figur. Ini adalah simbol harapan bahwa Orang Asli Papua juga layak diberi kepercayaan dalam kepemimpinan strategis di atas tanahnya sendiri.
Aspirasi ini tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari pengalaman panjang di mana banyak masyarakat Papua merasa bahwa mereka belum sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan besar yang menyangkut tanah dan masa depan mereka sendiri.
Sebagai bagian dari anak Papua, saya memandang bahwa negara harus jeli membaca momentum ini. Jangan sampai rakyat Papua kembali merasa bahwa suara mereka didengar, tetapi tidak sungguh-sungguh dijawab.
Jika negara ingin membangun damai yang sejati di Papua, maka negara juga harus berani membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itu tidak lahir dari pidato semata, tetapi dari keputusan-keputusan yang menunjukkan bahwa suara rakyat Papua benar-benar dihargai.
Papua tidak meminta belas kasihan. Papua meminta keadilan. Papua tidak hanya ingin didengar. Papua ingin diyakinkan bahwa suara panjang yang telah disampaikan sejak puluhan tahun lalu itu sungguh-sungguh dipertimbangkan dalam setiap keputusan besar yang menyangkut masa depannya.
Karena itu, Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat membaca momentum ini dengan jeli, dengan hati yang terbuka, dan dengan kebijaksanaan yang berpijak pada keadilan serta penghormatan terhadap Orang Asli Papua.
Papua membutuhkan damai, tetapi damai yang berdiri di atas keadilan. Papua membutuhkan stabilitas, tetapi stabilitas yang lahir dari rasa dihargai. Papua membutuhkan masa depan, tetapi masa depan yang memberi ruang nyata bagi Orang Asli Papua untuk ikut menentukan arah sejarahnya sendiri.
Papua sudah lama berbicara.
Kini yang dibutuhkan bukan sekadar mendengar, tetapi keberanian untuk membaca momentum ini dengan jeli dan menjawabnya secara adil.
