EVALUASI OTSUS PERLU, PEMBUBARAN MRP BUKAN SOLUSI
Pernyataan sikap Ketua APS Mimika di Tanah Papua. Evaluasi Otonomi Khusus diperlukan, namun pembubaran bukan solusi. Artikel ini mengulas pentingnya penguatan regulasi, pemetaan wilayah adat, dan kolaborasi lintas lembaga demi memperkuat posisi tawar Orang Asli Papua (OAP).


Gambar Ilustrasi AI.
Mendorong Evaluasi Otsus Tanpa Polarisasi: Pandangan APS Mimika
Terkait Polemik Pembubaran MRP di Tanah Papua
Polemik terkait usulan pembubaran Majelis Rakyat Papua (MRP) yang disampaikan oleh salah satu anggota DPD RI telah memicu diskusi luas di tengah masyarakat Papua. Respons dari berbagai pihak, termasuk anggota MRP Papua Barat, menunjukkan bahwa isu ini bukan sekadar perdebatan politik biasa, melainkan menyentuh fondasi kelembagaan Otonomi Khusus (Otsus) di Tanah Papua.
Sebagai Ketua Analisis Papua Strategis (APS) Mimika, saya memandang bahwa perdebatan ini harus diarahkan pada solusi struktural dan bukan pada polarisasi emosional.
Evaluasi Diperlukan, Namun Pembubaran Bukan Jawaban
Kita harus jujur mengakui bahwa implementasi Otsus belum sepenuhnya menjawab harapan masyarakat. Kritik terhadap efektivitas MRP, DPRK, maupun DPRP jalur pengangkatan adalah bagian dari dinamika demokrasi.
Namun, pembubaran lembaga tanpa desain alternatif yang jelas justru berpotensi melemahkan posisi tawar Orang Asli Papua (OAP) dalam struktur politik nasional.
MRP secara hukum memang hanya memiliki fungsi pertimbangan kultural, agama, dan afirmasi perempuan. Ia tidak memiliki kewenangan budgeting, legislasi, maupun eksekusi. Karena itu, persoalan utamanya bukan pada eksistensi lembaga, tetapi pada desain kewenangan yang terbatas dan implementasi regulasi yang belum maksimal.
Masalah Utama Ada pada Struktur Kewenangan
Banyak kebijakan strategis seperti investasi besar, PSN, tambang, maupun sawit sering berjalan tanpa pelibatan efektif lembaga kultural.
Jika MRP hanya memiliki fungsi pertimbangan yang bisa diterima atau diabaikan, maka yang perlu didorong adalah:
Penguatan fungsi konsultatif yang bersifat mandatory
Review regulasi turunan Otsus
Sinkronisasi antar lembaga adat dan politik
Tanpa penguatan regulasi, pembubaran tidak menyelesaikan akar persoalan.
Prioritas Mendesak: Pemetaan Wilayah Adat
Konflik lahan di Papua sering terjadi karena:
Tapal batas marga belum terdokumentasi dengan koordinat jelas
Musyawarah adat tidak terdigitalisasi
Pengakuan wilayah adat belum sistematis
Kedaulatan adat berada pada suku, keret, dan marga. Organisasi seperti MRP atau Dewan Adat hanyalah wadah representasi. Karena itu, program besar yang lebih substansial adalah:
Musyawarah adat berbasis marga
Pemetaan wilayah adat dengan teknologi GPS
Digitalisasi peta adat
Integrasi dengan tata ruang daerah
Inilah penguatan nyata terhadap masyarakat adat.
Papua Butuh Super Tim, Bukan Superman
Situasi hari ini menuntut kolaborasi, bukan konfrontasi.
Kita membutuhkan Super Tim yang terdiri dari:
MRP
Dewan Adat dan LMA
DPRK dan DPRP
DPD dan DPR RI
Akademisi dan gereja
Gerakan rakyat selalu dibangun melalui persatuan, bukan fragmentasi internal.
Papua tidak akan kuat jika rumahnya dibakar dari dalam.
Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi, tetapi harus diarahkan pada penguatan bersama.
Penutup
APS Mimika mendorong agar polemik ini menjadi momentum evaluasi konstruktif terhadap Otonomi Khusus.
Jika ada kekurangan, mari diperbaiki.
Jika ada kelemahan, mari diperkuat.
Jika ada perbedaan, mari dimusyawarahkan.
Papua membutuhkan konsolidasi strategis untuk menghadapi tantangan besar ke depan.
Timika, 2 Maret 2026
Yerry A. Nawipa
Ketua APS Mimika
